Janganlah hidup mengalir apa adanya tanpa target berarti. Agar bahagia, tetapkanlah target, target yang tinggi, dan target yang bermasa depan.

Suatu studi menunjukkan bahwa mereka yang menetapkan target lebih tinggi memiliki kepuasan batin lebih tinggi daripada yang memasang target biasa-biasa saja [1].

Intinya: agar bahagia, milikilah target yang tinggi, bukan yang biasa-biasa saja

Studi lain [2] menunjukkan bahwa ketika seseorang mendapat peningkatan kompetensi terkait goal setting (penetapan target) dan planning skills (keterampilan merencana), kepuasan batin (subjective well being) mereka meningkat.

Intinya: jangan sekedar menetapkan target yang tinggi, belajarlah juga keterampilan merencanakan.

Bukan sekedar memiliki impian, seseorang akan lebih bahagia ketika target-target mereka terselaras, yakni antara target jangka pendek dengan target jangka panjang mereka [3]. Terselaras di sini dalam artian tersambung secara masuk akal (koheren) sedemikian rupa capaian target jangka pendek mengantarkan pada capaian target jangka panjang.

Intinya: jangan sekedar miliki target jangka pendek, proyeksikan target jangka pendek itu untuk target yang jauh lebih besar di masa depan.

Sumber:

[1] Ambitious goals = satisfaction, Eurekalert

[2] “Increasing well-being through teaching goal-setting and planning skills: results of a brief intervention” dari Journal of Happiness Studies

[3] The Happiness Hypothesis: Finding Modern Truth in Ancient Wisdom, Jonathan Haidt’s.