Pada tulisan sebelumnya, kita telah memahami bahwa agar bisa sukses dalam menapaki jenjang karir, kita perlu menemukan mentor. Dari seorang mentor, kita dibimbing dalam proses mentoring untuk mengembangkan kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan pengalaman agar kita bisa melaksanakan pekerjaan kita dengan sebaik mungkin, juga agar kita bisa mengembangkan karir tentunya.

Sekarang, bayangkan bahwa Anda telah menapaki jenjang karir yang lebih tinggi. Ditandai dengan jabatan yang lebih tinggi dan tanggung jawab yang lebih besar. Maka, mau tidak mau Anda pasti akan menjadi seorang mentor. Anda harus melatih dan mendidik staf baru agar bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, dan Anda harus membantu mereka untuk mengembangkan karir. Jika Anda menemui staf yang benar-benar berbakat dan memiliki semangat lebih besar untuk mengembangkan karirnya, Anda bahkan harus melatih mereka secara khusus atau dengan kata lain Anda harus melakukan proses mentoring bagi mereka.

Mungkin Anda akan bilang: “Untuk apa saya susah-susah mendidik, melatih mereka. Apalagi membimbing mereka agar karirnya berkembang. Biar sistem atau pihak HRD/kepegawaian yang melakukannya!”. Maka, Anda harus ingat. Anda bisa sukses dan besar sekarang itu karena jasa mentor Anda, yang dengan sukarela meluangkan waktunya untuk mendidik dan membimbing Anda dalam proses mentoring. Jika ingin berterima kasih pada mentor Anda, Anda harus belajar dan menjadi mentor yang baik. Itulah bentuk rasa terima kasih yang akan sangat dihargai oleh mentor Anda.  Dengan Anda berusaha, belajar untuk bisa jadi seorang mentor yang baik, maka Anda telah melakukan kebaikan budi untuk orang lain. Anda telah bersyukur pada Tuhan. Maka kelak Anda atau anak keturunan Anda akan menuai berbagai kebaikan dari kebaikan yang telah Anda lakukan.

Singkat kata, jika ingin menjadi seorang mentor yang baik, Anda perlu mempelajari beberapa ketrampilan. Berikut ini apa saja ketrampilan yang perlu Anda pelajari.

Pertama, adalah ketrampilan untuk melatih. Kedua, ketrampilan untuk memberikan konseling. Ketiga, ketrampilan untuk memberikan mentoring. Sekarang, kita akan bahas poin pertama tentang ketrampilan untuk melatih. Saat melatih seseorang, kita terlebih dulu harus menetapkan apa saja pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dibutuhkan oleh staf agar mereka bisa melakukan suatu pekerjaan dengan efektif. Setelah itu, Anda perlu siapkan apa saja yang dibutuhkan untuk melatih mereka. Proses melatih membutuhkan interaksi dua arah. Baik Anda maupun yang Anda latih harus aktif mengamati dan mengajukan pertanyaan. Jika staf tidak banyak bertanya, maka Anda perlu mengajukan pertanyaan agar staf yang Anda latih tertantang untuk berpikir mencari jawaban atas masalah yang dihadapi. Anda juga perlu aktif mengamati apakah staf merasa kesulitan, merasa bosan, takut, atau bingung. Setelah mengetahui apa yang dirasakan oleh staf, maka Anda perlu memberi tanggapan yang tepat. Cara yang tepat untuk memberi tanggapan adalah dengan secara spesifik menunjukkan apa saja yang sudah tepat, apa yang keliru, apa yang hampir tepat, dan apa yang hampir salah.

Yang terpenting adalah Anda harus berusaha menciptakan suasana pelatihan yang bisa mendorong semua staf untuk aktif ikut serta dalam pelatihan tanpa merasa ketakutan atau tertekan. Ini akan bermanfaat untuk membangun kerjasama tim yang efektif diantara sesama staf. Ciptakan suasana yang tidak terlalu serius, namun juga tidak terlalu santai. Untuk bisa menciptakan suasana seperti itu, Anda terlebih dulu harus mampu mengendalikan emosi dan kemarahan Anda. Kecenderungan alami seorang manusia untuk menjadi otoriter ketika memegang jabatan atau menduduki posisi yang lebih tinggi dibanding orang lain.

Ketika melatih staf, Anda harus menjadi teladan bagi mereka, dan Anda harus yakin terlebih dahulu bahwa staf Anda pada dasarnya ingin menunjukkan etos kerja yang baik, dan mereka ingin berkembang. Agar bisa jadi teladan, Anda harus jadi orang yang jujur dan memiliki integritas. Artinya, setiap pemikiran dan perkataan Anda harus selaras dengan apa yang Anda lakukan.

Di akhir pelatihan, Anda akan menemukan staf yang memiliki bakat, keahlian, dan motivasi yang lebih lebih besar dibandingkan dengan rekan-rekannya.  Anda perlu terus mengamati staf tersebut saat bekerja. Apakah bakat, keahlian, dan semangatnya tetap lebih menonjol dibanding rekan-rekannya? Jika ya, Anda telah memiliki kandidat staf yang siap Anda bina dengan lebih intensif dalam proses mentoring.

Sekian dulu tulisan ini. Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas tentang konseling.