Kita tahu, saling memaafkan sebenarnya tidak perlu menunggu momen ramadhan atau hari raya. Tapi jika kita butuh menjadikan momen ini agar lebih tidak sungkan untuk bermaafan, maka ya oke oke saja ūüôā

Berikut adalah perihal menarik dari riset tentang memaafkan:

1 – Mengapa ada orang yang susah memaafkan dan ada juga yang mudah untuk memaafkan?

Ini akan bergantung pada keyakinan yang bersangkutan: apakah dia meyakini si pembuat salah bisa berubah (jadi lebih baik) atau tidak [1].

Maka jika Anda ingin termaafkan, yakinkan bahwa Anda berkomitmen untuk berubah, tunjukkan bahwa Anda memang sudah mulai berubah. Demikian juga yang dapat Anda harapkan dari orang yang pernah berbuat salah pada Anda; minta dia tunjukkan bahwa dia akan/telah berubah.

2 – Apakah yang membuat seseorang lebih mudah untuk memaafkan?

Dengan mengingat beragam kesalahan yang pernah kita lakukan kepada orang lain [2] .

Maka jika Anda ingin jadi lebih mudah memaafkan, ingat-ingatlah hal buruk yang Anda pernah lakukan terhadap orang lain.

3 – Bagaimana jika masih juga susah untuk memaafkan?

Ungkapkan perasan Anda dalam wujud tulisan, lalu tuliskan manfaat memberi maaf bagi diri Anda sendiri, dan kemudian bersimpatilah kepada si pembuat salah dalam tulisan Anda [3].

4 – Bagaimana bila ceritanya diri Anda susah dimaafkan?

Berikan hadiah. Semakin bagus atau semakin mahal pemberian Anda, semakin besar peluang Anda untuk dapat permaafan [4]

Sumber:

[1] “How Implicit Beliefs Influence Trust Recovery” dari¬†Psychological Science

[2] “A Cross-Cultural Examination of the Effects of Apology and Perspective Taking on Forgiveness” dari¬†Journal of Language and Social Psychology

[3] “Writing wrongs: Promoting forgiveness through expressive writing” dari Journal of Social and Personal Relationships

[4] “Do sincere apologies need to be costly? Test of a costly signaling model of apology” from Evolution and Human Behavior