Di JaPo, mengapa kita bicara tentang bakat? Bukankah minat itu jauh lebih penting?

K onsep pengembangan diri JaPo didasarkan atas bakat alami. Pertimbangan utamanya adalah bahwa bakat yang mampu mendongkrak dan mengangkat kehebatan seseorang hingga titik maksimal. Faktanya, mereka yg hanya mendasarkan minat dengan bakat yg rendah, dia tak akan bisa mencapai prestasi istimewa di atas rata-rata.Betul, minat memang penting. Tapi

bisakah seorang Michael Jordan menyanyi dengan hanya mengandalkan minat? Entah karena pengaruh teman atau lingkungan, dia pasti bisa menyanyi bila dia memang betul-betul berminat di sana. Tapi dia tak mungkin bisa jadi luar biasa di sana. Karena keluarbiasaan membutuhkan bakat, minat yg dipertemukan dg bakat. 

Kita ambil contoh lagi: Lance Armstrong, pembalap sepeda, juara Tour de France tujuh kali. Edward Coyle, peneliti dari Laboratorium Human Performance Texas telah meneliti Armstrong selama delapan tahun, dan menemukan betapa Armstrong secara genetis memiliki keunggulan yg membuatnya bisa menjadi juara.

 

Paru-paru Armstrong bisa menyerap oksigen dua kali lebih banyak daripada rata-rata manusia. Selain itu tingkat prosentase oksigen yang bisa dikonversi menjadi kekuatan otot Armstrong lebih besar daripada rata-rata manusia. Jantungnya bisa memompa darah hampir dua kali lipat jumlahnya dari manusia kebanyakan, dan ototnya bisa memproduksi lactic acid separuh saja dari rata-rata dan lantas bisa membuangnya secara lebih cepat. Semua itu memang ada yg dibentuk dari latihan (minat), tapi sebagian besarnya ditentukan oleh bakat. Dan biasanya, orang yang berbakat, minatnya juga sejalan dengan bakatnya itu.

 

Namun kemudian ada juga orang-orang yg tidak bisa membaca bakatnya karena terhalang dari pola asuhan yg monoton dan tidak membuat dirinya berkembang. Termasuk juga gaya belajar. Seseorang dg bakat bawaan gaya belajar auditori bisa jadi kurang memiliki skill auditori yang berkembang karena dia diasuh, dibesarkan, dilatih, dan dikondisikan dengan cara-cara orang visual. Namun kalau saja dia mencoba belajar sebagaimana gaya belajar orang auditori atau apapun yang sesuai bakatnya, maka dia pasti akan bisa lebih berkembang dan melesat di sana.

 

Kita gunakan analisa sidik jari untuk membantu seseorang menemukan bakatnya. Dan di dalam bakatnya itu lah seseorang bisa merasakan nikmat karena meminatinya. Dan dari situ lah kemudian dia jadi pribadi yang lebih percaya diri dan juga lebih berbahagia atas pilihan-pilihannya.

 

Hasil analisa JaPo dapat digunakan untuk membantu seseorang dalam menentukan bidang kerja yang sesuai. Bagaimana dengan minat? Seseorang bisa saja atas dasar minatnya menekuni bidang ilmuwan matematika. Namun manakala dia tidak memiliki bakat numerik yang kuat, dan lebih menikmati working with people alih-alih working with data/information/number, maka sebesar apa pun minatnya, cepat atau lambat dia tidak akan bisa (atau susah) berkembang di sana. Dan yang lebih penting lagi: dia tidak bisa (atau susah untuk) menikmatinya.

 

Silahkan lihat film ‘3 Idiots’ yang luar biasa. Film ini menggambarkan betapa pentingnya kita berkembang berdasarkan bakat-bakat terbesar kita dan untuk mengarahkan minat kita berdasarkan bakat tersebut.

 

Prestasi = Bakat x Investasi

About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JaPo Login

Like us on Facebook