Pada tulisan sebelumnya, kita telah memahami bahwa penghambat terbesar bagi kita untuk meraih kebahagiaan dan sukses dalam hidup adalah berasal dari dalam diri kita sendiri. Kita telah membahas tiga penyebab yang menghambat kebahagiaan dan sukses. Sekarang, kita akan membahas tiga hal berikutnya yang menjadi keburukan diri sendiri.

Kesepuluh. Berusaha keras menyenangkan orang lain untuk “cari muka”

Sungguh sia-sia pekerjaan seperti ini. Kita justru akan makin susah sendiri, karena jika tidak ikhlas berbuat kebaikan maka hati nurani kita akan semakin sakit dan merana. Nah, akar dari permasalahan ini adalah:

  1. Kita bingung membedakan antara mencintai seseorang dan menyenangkan orang lain. Jika kita mencintai seseorang, kita tak akan memberikan sesuatu yang buruk baginya meski dia menyukainya. Kita akan memberikan sesuatu yang lain meski dia tak menyukainya, karena sebenarnya itu lebih baik baginya. Jika kita tak mencintai seseorang, kita akan berikan apapun yang diinginkannya meski kita tahu bahwa itu buruk baginya.
  2. Kita berharap akan mendapat imbalan dari orang lain atas perbuatan kita yang menyenangkannya. Resiko dari perbuatan ini, kita akan kecewa dan berbalik membenci orang yang kita senangkan jika dia tidak memberi imbalan yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tuluslah dalam mencintai. Ingatlah orang tua kita yang tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, namun dia mencintai kita dengan setulus hati. Mereka berusaha membuat kita senang dengan pertimbangan, bukan dengan asal saja menyenangkan kita. Mereka tak meminta apa-apa dari kita. Namun alih-alih menderita, mereka justru bahagia karena mencintai kita dengan tulus. Maka, berusalah mencintai dengan tulus jika kita ingin bahagia.

Kesebelas. Selalu mencari-cari keburukan orang lain dan membicarakannya di belakang mereka.

Bahasa mudahnya adalah kita senang ngerasani. Atau ghibbah. Tampaknya menyenangkan memang. Namun dampak jangka panjangnya sangat buruk. Kita akan susah menerima kritik dan saran dari orang lain, meskipun orang lain menyampaikannya secara baik-baik. Saat ada masalah, kita cenderung menyalahkan orang lain dan tidak mau mencari bekerjasama mencari solusi, karena kita menganggap hanya orang lain saja yang bersalah dan hanya mereka yang harus mencari solusi. Dan balasannya, orang lain pun akan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Mereka akan mencari-cari kesalahan kita dan selalu menyalahkan kita. Tak hanya dalam lingkungan kerja atau sekolah/kampus, bahkan di rumah pun kita akan mendapatkan perlakuan yang sama dari keluarga kita. Rumah yang kita harapkan menjadi sumber ketenangan, berubah menjadi seperti neraka.

Lihat, betapa menderitanya kita dengan dampak ngerasani/ghibbah ini. Maka, mulai sekarang berhentilah ngerasani/ghibbah. Carilah teman-teman yang baik, dan rajinlah beribadah untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Keduabelas. Bersembunyi atau lari dari kenyataan.

Begitu kenyataan menjadi sulit atau tidak sesuai dengan harapan, kita cenderung lari dan tidak mau menghadapi kenyataan. Mengapa? Itu karena kita tidak mau menghadapi dan merasakan sakit. Terkadang kenyataan itu begitu menyakitkan. Namun kita tak mau merasakan sakit. Padahal rasa sakit itu justru membuat kita tumbuh dan berkembang menjadi orang yang lebih baik. Karena tidak mau merasakan sakit, kita menipu diri sendiri dengan terus bekerja tanpa memperhatikan keseimbangan hidup. Kita melewatkan waktu untuk ibadah mendekatkan diri pada Tuhan, kita tak lagi memperhatikan keluarga kita. Akibatnya, kita makin menderita dan semakin kehilangan kesadaran tentang diri kita sendiri ataupun lingkungan sekitar. Jika sudah begini, kita bisa terperosok ke arah judi, mabuk-mabukan, seks bebas, narkoba, dan berbagai kejahatan lain yang kita kira bisa membuat kita senang dan terhindar dari kenyataan sebenarnya. Pikirkan, bukankah ini malah membuat kita terpuruk dan hancur?

Demikian tulisan kali ini. Renungkanlah terlebih dahulu. Pekan depan, kita akan membahas bagian kelima dari apa saja penghambat terbesar yang membuat kita sulit merasakan kebahagian dalam hidup dan sulit meraih kesuksesan.