Pada tulisan sebelumnya, kita telah memahami bahwa penghambat terbesar bagi kita untuk meraih kebahagiaan dan sukses dalam hidup adalah berasal dari dalam diri kita sendiri. Kita telah membahas tiga penyebab yang menghambat kebahagiaan dan sukses. Sekarang, kita akan membahas tiga hal berikutnya yang menjadi keburukan diri sendiri.

Ketiga belas. Mengubur mimpi.

Mimpi disini bukan berarti kita bermimpi buruk, lalu kita ingin melupakannya. Tapi yang dimaksud mimpi adalah harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Misalnya lebih berkecukupan dalam hal pemasukan keuangan keluarga. Jika kita mengubur mimpi, berarti kita sudah tak mau memiliki harapan dalam hidup. Sedangkan tak memiliki harapan berarti kita putus asa. Padahal berputus asa itu sungguh sangat merugikan diri sendiri, dan mungkin juga keluarga kita atau orang lain.

Kita berputus asa karena kita takut mengalami kegagalan. Takut gagal artinya takut menghadapi resiko berupa mengalami kesulitan, rasa sakit, malu, lelah, dan sebagainya. Padahal, di balik resiko terdapat suatu potensi keuntungan atau kemudahan yang akan kita dapatkan. Dan di balik kesulitan itu selalu terdapat kemudahan yang mengiringi kita. Maka, lupakan segala kenangan dan prasangka buruk di masa lalu. Jika sulit untuk melupakan, maka akui bahwa kenangan buruk itu memang ada. Lalu relakan dan lepaskan kenangan buruk itu. Dan penting bagi kita untuk sering berkumpul dengan  orang-orang yang optimis, agar kita tak mudah berputus asa.

Keempat belas. Terlalu fokus pada masa lalu.

Ini terkait dengan kenangan yang melekat pada ingatan kita. Kita belum benar-benar mengakui dan melepaskan kenangan buruk itu. Ada dua hal tentang kenangan yang akan kita bahas di sini. Pertama, jika itu kenangan buruk, maka akan membuat kita terpuruk dalam keputus-asaan. Kedua, jika itu kenangan akan kejayaan, kemudahan, kenikmatan, dan kenyamanan hidup, maka akan membuat kita jadi terlena, malas, dan tak mau menyesuaikan diri dan menerima kenyataan.  Di sini kita akan membahas kenangan yang bagian kedua. Hal tersebut ada penyebabnya.

Penyebabnya yaitu kecenderungan kita yang menyukai hal yang mudah. Nah, yang mudah itu karena kita sering melakukannya di masa lalu dan itu terbukti efektif untuk menyelesaikan apa yang menjadi masalah atau kebutuhan kita. Padahal, apa yang efektif di masa lalu belum tentu akan bisa sama efektifnya dengan situasi kondisi yang dihadapi saat ini. Situasi dan kondisi telah berubah, sehingga kita harus belajar menyesuaikan diri dengan belajar untuk mencari cara-cara baru yang efektif untuk menghadapi persoalan baru yang ada saat ini.

Kelima belas. Terlalu cepat membuat keputusan.

Cepat membuat keputusan itu bagus. Itu tanda kita terbiasa berusaha untuk mempertimbangkan segala sesuatunya secara matang dalam waktu yang lebih cepat dari biasanya kita mampu.  Namun terlalu cepat membuat keputusan, itu tanda dari rasa malas berpikir, tergesa-gesa dan kecerobohan, sehingga akan membawa berbagai kesulitan dalam hidup kita.

Terlalu cepat membuat keputusan bisa disebabkan karena kita terlalu sibuk. Ini masih mendingan. Yang parah adalah karena kita malas. Ya, malas untuk berpikir lebih keras mempertimbangkan segala sesuatunya secara matang dalam waktu yang lebih cepat dari biasanya kita mampu. Ini hal yang berat karena ini mewajibkan kita berpikir panjang, apalagi jika kita tidak terbiasa melatih diri untuk itu. Maka, mulailah melatih diri Anda untuk berpikir lebih cepat dalam memecahkan masalah yang ringan-ringan terlebih dulu. Lalu tingkatkan pada permasalahan yang lebih berat. Kemudian, cobalah untuk menahan diri dan berpikir lebih panjang ketika menghadapi permasalahan yang sulit. Itu karena permasalahan yang sulit  membutuhkan pertimbangan yang lebih matang, lebih banyak waktu. Sehingga kita harus menahan diri dari rasa tergesa-gesa.

Demikian tulisan kali ini. Renungkanlah terlebih dahulu. Pekan depan, kita akan membahas bagian keenam dari apa saja penghambat terbesar yang membuat kita sulit merasakan kebahagian dalam hidup dan sulit meraih kesuksesan.