Pada tulisan sebelumnya, kita telah memahami bahwa penghambat terbesar bagi kita untuk meraih kebahagiaan dan sukses dalam hidup adalah berasal dari dalam diri kita sendiri. Kita telah membahas tiga penyebab yang menghambat kebahagiaan dan sukses. Sekarang, kita akan membahas empat hal terakhir yang menjadi keburukan diri sendiri.

Keenambelas. Tidak mengakui kelemahan dan atau kesalahan diri sendiri.

Melakukan hal ini akan membuat kita selalu memasang topeng untuk berusaha agar tampil selalu sempurna setiap saat, dimanapun, kapanpun. Hal ini sungguh melelahkan dan menyakitkan. Apalagi jika ternyata orang mengabaikan usaha kita agar selalu tampil sempurna itu. Belum lagi jika ternyata orang mengetahui keburukan apa yang sebenarnya ada di balik topeng yang kita pakai. Kita akan sangat malu, dan orang jadi kurang menghargai kita. Padahal, jika kita mengakui bahwa kita punya kesalahan dan kelemahan, orang justru menghargai dan menghormati kita.

Ingatlah, yang sempurna hanyalah Tuhan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Maka dari itu, kita harus tahu mengapa kita bisa sampai memakai topeng dan berusaha untuk selalu tampil sempurna. Sebabnya adalah karena kita biasa menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Cobalah untuk menilai seseorang dari dimensi yang lebih luas. Berikutnya, belajarlah untuk berani mengakui kesalahan kita, dan lakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Nah, pada proses memperbaiki kesalahan itulah kita yang seringkali tidak mau bersabar karena kita merasakah penderitaan di dalamnya. Padahal, dalam penderitaan itulah kita akan tercerahkan dan menjadi seseorang yang jauh lebih baik.

Ketujuh belas. Melukai dan atau menyakiti diri sendiri.

Ada dari kita yang jika sedih dan ingin mencari perhatian atau simpati dari orang lain agar menghibur kita, malah menyayat nadi di lengannya, mogok makan, dan melakukan berbagai tindakan konyol lainnya. Ketahuilah. melakukan hal ini akan membuat kesedihan kita semakin menjadi-jadi dan membuat kita menjadi sangat menderita.

Kita harus mencari tahu mengapa kita bisa sampai melakukan hal itu. Itu karena kita memiliki harga diri yang rendah. Kita minder. Kita menggantungan harga diri kita pada penghargaan, perhatian, dan simpati dari orang lain. Padahal, apa yang mereka berikan itu tak akan membuat kita bisa melepaskan kesedihan atau membuat kita bisa mendapat solusi dari masalah kita. Yang bisa menghibur kesedihan kita dan memberi kita jalan keluar dari berbagai masalah, hanyalah Tuhan. Jika kita tegar dan bersabar, Tuhan akan menghapus kesedihan kita dan memberi kita solusi. Namun jika kita mengeluh, apalagi sampai menyakiti diri sendiri, maka kita akan semakin sedih dan masalah akan menjadi semakin ruwet.

Kedelapan belas. Terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri.

Ini merupakan tanda dari gangguan kejiwaan, karena normalnya kita sebagai manusia itu ingin memberi perhatian dan kasih sayang pada orang lain. Egois atau terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri, itu tandanya orang yang tidak ingin memberi perhatian dan kasih sayang pada orang lain. Inginnya dia yang terus diperhatikan, dilayani. Dia tak peduli pada orang lain. Egois sangat merugikan diri sendiri, karena dapat membuat kita menjadi orang yang kejam sehingga akan menjadikan hidup kita makin tidak bahagia. Jika tidak bahagia, maka sukses tidak akan pernah bisa kita raih.

Penyebab kita menjadi egois itu karena kita trauma pernah dicurangi oleh orang lain. Lalu kita tidak ingin dicurangi lagi, sehingga kita berpikir lebih baik mencurangi orang lain ketimbang dicurangi orang lain. Kita menjadi meniru semua pola pikir dan tindakan mereka. Mengutamakan semua bentuk pemuasan terhadap semua keinginan diri sendiri. Kita jadi menganut paham “Yang penting aku senang, tak peduli bagaimanapun caranya”. Kita tak mau lagi mencoba berpikir lebih jauh dan introspeksi diri. Akibatnya kita jadi malas untuk beribadah mendekatkan diri pada Tuhan. Jika sudah begini, tinggal menunggu waktu akan datangnya bencana kehancuran bagi diri kita sendiri.

Kesembilan belas. Tidak mau berusaha untuk berpikir lebih dalam dan lebih jauh.

Kita cenderung menganggap bahwa kenyataan itu hanyalah pada hal yang tampak dan bisa dilihat, diraba, dan diamati. Itu adalah kenyataan yang keras sifatnya. Apa yang nyata adalah apa yang bisa dibuktika di dalam laboratorium. Padahal, kenyataan itu jauh lebih luas daripada semua itu. Pikiran, perasaan, keyakinan, dan hasrat serta keinginan yang terpendam di dalam hati kita itu semuanya juga merupakan kenyataan. Apa yang tak selalu bisa kita lihat, dengar, dan kita sentuh namun bisa kita rasakan, sebenarnya itu adalah kenyataan. Ya, itu adalah kenyataan yang halus sifatnya.

Sekarang ini jaman dimana kebaikan dan keburukan seringkali dengan sengaja dicampur adukkan jadi satu, sehingga menjadi tidak jelas lagi mana yang benar dan mana yang salah. Yang benar tampak salah, dan yang salah tampak benar. Maka, jika kita hanya mengakui kenyataan yang keras dan mengabaikan kenyataan yang halus, maka kita akan kesulitan membedakan mana yang benar, mana yang salah. Kita akan mudah tertipu. Jadi, penting sekali untuk mengakui kedua jenis kenyataan, dan terus berusaha untuk berpikir dengan lebih jernih sambil terus berbuat baik dan menghindari berbuat jahat.

Demikian tulisan kali ini. Renungkanlah baik, dan segeralah membiasakan untuk berpikir dan berbuat yang baik. Sukses itu bisa diraih jika kita terlebih dahulu bisa merasakan bahagia, dan bahagia itu sederhana. Tidak tergantung pada berapa harta yang kita miliki, jabatan yang kita punya, atau pasangan cantik/ganteng yang kita bangga-banggakan. Bahagia itu karena kita selalu menaati perintah Tuhan dan menjauhi larangannya.