Rasulullah SAW pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling berakal dan paling bijaksana?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

~dari Buku “ETIKA BERKUASA: Nasihat-nasihat Imam Al-Ghazali – Karya Imam Al-Ghazali.

 

Mengingat kematian membuat seseorang jadi lebih baik dan bijaksana; dan ilmu pengetahuan bersepakat. Secara konsisten, beberapa studi selalu menunjukkan betapa berpikir tentang kematian membawa manfaat dan kebaikan.

Eksperimen lapangan dan eksperimen berseting laboratorium dengan kendali ketat selalu menunjukkan temuan yang sama: kesadaran akan kematian meningkatkan ekspresi toleransi, kesetaraan/keadilan, belas kasihan, empati, dan sikap damai. Secara umum, mengingat kematian membuat seseorang betul-betul mengevaluasi tentang apakah perihal apakah yang betul-betul penting.

Bahkan berpikir tentang kematian secara tak termaksud (atau tanpa sadar)—misal saja berjalan di dekat pemakaman—dapat memunculkan perubahan positif dan membuat seseorang memiliki tendensi lebih besar untuk menolong orang lain (40% lebih besar, dari hasil studi). Dalam suatu eksperimen berbeda, pejalan kaki yang baru saja mendengar obrolan tentang pentingnya berbuat baik akan miliki kecenderungan lebih besar untuk memberi bantuan kepada orang asing, secara khusus ketika di saat itu terdapat pemakaman yang tertangkap oleh jarak pandang mereka.

Memikirkan tentang kematian juga mendorong tercapainya kesehatan yang lebih baik melalui gaya hidup yang lebih menyehatkan, seperti mengurangi rokok atau membiasakan berolahraga.

Studi yang menunjukkan manfaat positif mengingat kematian menyatakan bahwa seseorang akan lebih termotivasi untuk berbuat kebaikan dari membayangkan kematiannya sendiri alih-alih dari melihat kematian orang lain.

Maka mari sama-sama membayangkan kematian kita sendiri, kemudian atas beragam keinginan yang kita punya—membeli sesuatu, menjalani sesuatu, apapun—kita tanyakan “Dengan kematian yg kita bayangkan tadi, apakah semua itu memang benar-benar berarti untuk kita miliki/kejar/jalani?

Ketika saya sendiri melakukan, saya temukan diri saya begitu pandai mencari pembenaran-pembenaran 🙂

Kita punya buanyak sekali keinginan, yang telah dan yang sedang. Semoga Tuhan menghidayahi kita untuk tidak lupa membentuk keinginan terkait kematian: Ingin mati seperti apa tepatnya nanti; dan hal-hal apa yang tidak ingin kita sesali beberapa saat sebelum mati.

Orang pintar ingat matinya sendiri, orang bijak persiapkan diri.

Referensi studi: University of Missouri-Columbia (2012, April 30). The bright side of death: Awareness of mortality can result in positive behaviors. ScienceDaily. Retrieved August 11, 2012, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2012/04/120430164359.htm