Singkat kata: tidak dapat dan bahkan tidak boleh dijadikan satu-satunya pertimbangan.

JaPo lebih tepat untuk digunakan sebagai pertimbangan terkait ketika seseorang sudah/hendak dipromosikan, maka bidang kerja mana yang paling cocok untuk dirinya. Rekomendasi JaPo juga dapat diterapkan untuk melakukan rukir tugas/jabatan dalam tingkatan yang sama.

JaPo tidak dapat (dan tidak boleh!) digunakan sebagai satu-satunya pertimbangan untuk melakukan promosi jabatan. Mengapa? Karena JaPo mengulas tentang identifikasi dan komposisi bakat genetis yang tidak berubah semenjak kecil hingga masa tuanya seseorang. Sangatlah tidak adil (tidak fair) bagi seseorang untuk didakwa nasib karirnya (di saat ini) berdasarkan oleh semata karakteristik yang dibawanya sejak lahir.

Pertimbangan untuk menaikkan pangkat atau jabatan seseorang haruslah juga didasarkan pada perihal yang sifatnya bisa diupayakan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, pengalaman kerja riil, serta pengetahuan dan keterampilan yang didapat melalui hasil pembelajaran dan pengalaman harus turut menjadi pertimbangan.

Melalui analisa JaPo, kita bisa mendapatkan semisal saja 15 orang yang memiliki keberbakatan tertinggi di bidang kerja A. Namun JaPo tidak bisa dijadikan dasar untuk menentukan dari ke-15 orang tersebut, manakah yang terbaik. Meskipun JaPo menunjukkan kadar keberbakatan seseorang atas suatu bidang kerja, tapi JaPo tidak mendeteksi tingkat kecerdasan atau daya tangkap seseorang (yang juga sifatnya genetis) dan juga pengetahuan dan keterampilan saat ini dari yang bersangkutan.